beasiswaunggulan.com., SURABAYA—Departemen Student Welfare (SWF) Komunitas Beasiswa Unggulan Surabaya (KUBUS) kembali gelar webinar pengempangan diri bertajuk “Boost Your Skill: Public Relation!” pada Sabtu, 31 Januari 2026 berbasis platform Zoom Meeting.
Usung tema “Penguatan Keterampilan Public Relation Melalui Pemahaman Mendalam dan Diskusi Bersama Narasumber yang Berpengalaman”, webinar ini diikuti oleh 88+ partisipan.
Dua narasumber inspiratif dihadirkan dalam webinar ini, di antaranya; pertama, Anggita Allaudia Sudrajat selaku Mahasiswa S-1 Sistem Informasi UNESA yang menjabat sebagai Staf Public Relation di organisasi Kejar Mimpi Surabaya, Google Developer on Campus UNESA, dan Sadari Sekarang.
Kedua, Nanda Dwi Wahyuni selaku Mahasiswa S-1 Ilmu Komunikasi UNESA sekaligus Awardee Beasiswa Unggulan dan menjabat sebagai Staf Senior Public Relation di Komunitas Beasiswa Unggulan Surabaya (KUBUS), Compact, dan Happenic.
Webinar ini menghadirkan empat topik utama; yakni 1) Get to Know Public Relation dan 2) Tips Komunikasi Efektif yang dibawakan oleh Anggita; serta topik 3) Strategi Publikasi dan Copywriting, dan 4) Study Case Public Relation yang dipaparkan oleh Nanda.
Menurut Anggita, secara umum Public Relation (PR) didefinisikan sebagai fungsi manajemen yang bertanggung jawab untuk merencanakan dan mengevaluasi komunikasi antara organisasi dengan publiknya guna membangun hubungan yang saling menguntungkan secara berkelanjutan.
Ia menjelaskan peran strategis PR mencakup perluasan jaringan mitra komunitas, penyusunan strategi publikasi untuk memaksimalkan jangkauan, hingga pengelolaan reputasi positif demi mencegah krisis komunikasi.
Untuk menjalankan peran ini secara optimal, Anggita menyampaikan bahwa seorang praktisi PR perlu menguasai lima soft skills utama, yaitu membangun relasi, komunikasi persuasif, adaptabilitas, pengambilan keputusan yang cepat, serta menjaga etika profesional sebagai fondasi kepercayaan publik.
“Public Relations (PR) berperan penting dalam membentuk persepsi, citra, dan reputasi organisasi secara berkelanjutan melalui komunikasi dua arah yang mendengarkan dan merespons opini publik.” tegasnya.
Dalam praktiknya, Anggita membagikan tips bahwa komunikasi efektif seorang PR sangat bergantung pada etika profesional saat berinteraksi dengan pihak eksternal, baik dalam menawarkan kerja sama maupun mengelola kesepakatan.
Proses kolaborasi dimulai dari riset mendalam terhadap calon mitra, negosiasi yang berdasar pada SOP organisasi, hingga penandatanganan MoU yang harus dipatuhi secara disiplin.
Komunikasi yang tidak efektif, seperti memaksa pihak luar mencari informasi secara mandiri atau tidak melakukan follow up secara responsif, dapat menciptakan celah waktu yang merugikan dan menipiskan kesempatan kerja sama.
Untuk itulah Anggita berpesan, “Dalam melakukan follow up atau menjawab pesan, sangat penting untuk selalu memulai dengan salam, memberikan apresiasi, serta menggunakan kalimat permohonan yang santun untuk menjaga keberlanjutan kerja sama,”
Sementara itu, dalam melakukan publikasi; menurut Nanda, seorang praktisi Public Relation harus mampu mengenali karakter unik dari setiap platform media sosial, mulai dari Instagram yang mengandalkan visual estetis hingga TikTok yang berfokus pada konten video vertikal yang viral.
Strategi ini harus dibarengi dengan teknik copywriting yang efektif menggunakan formula AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) untuk memastikan pesan yang disampaikan tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga mampu mendorong audiens untuk melakukan tindakan nyata.
Penggunaan kata-kata yang tepat dan hook yang kuat menjadi kunci dalam mengubah informasi biasa menjadi narasi yang persuasif dan berdampak luas bagi citra organisasi. “Strategi publikasi yang efektif dimulai dengan mengenali karakter setiap media dan menggunakan teknik copywriting AIDA untuk mengubah perhatian audiens menjadi tindakan nyata.”
Melalui studi kasus yang dipaparkan, terlihat bahwa tugas PR di era digital jauh melampaui sekadar kemampuan berbicara yang baik, melainkan mencakup manajemen publikasi dan pengolahan konten yang strategis.
Implementasi nyata dari teori PR dapat dilihat pada bagaimana sebuah konten informatif, seperti bantuan UMKM, disusun dengan struktur yang jelas untuk membangun kepercayaan sekaligus memberikan solusi spesifik atas permasalahan audiens.
Dengan mengukur dan mengoptimalkan setiap konten yang dipublikasikan, praktisi PR dapat memastikan bahwa setiap pesan yang keluar telah memenuhi tujuan komunikasi, baik itu untuk meningkatkan awareness maupun membangun keterlibatan emosional yang kuat dengan publik.
Terakhir, Nanda menyimpulkan bahwa “seorang PR di era saat ini tidak hanya dituntut untuk menjadi pembicara yang baik, tetapi juga harus ahli dalam mengelola strategi konten dan menganalisis dampak publikasi terhadap audiensnya.”
Naila Rizki Chasadiat, selaku Ketua Pelaksana, menjelaskan bahwa inisiasi webinar ini lahir dari pengamatannya terhadap tingginya minat mahasiswa pada bidang kehumasan yang belum dibarengi dengan kemudahan akses pembelajaran.
Melalui konsep “Boost Your Skill: Webinar Public Relation!”, ia berupaya menyediakan wadah edukasi yang sistematis dengan materi yang telah dirancang khusus agar tetap relevan bagi kebutuhan peserta saat ini.
Naila menegaskan bahwa orientasi utama dari perhelatan ini adalah untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki daya saing tinggi di berbagai bidang melalui penguasaan kemampuan komunikasi yang mumpuni.
Dalam keberlanjutannya, Naila berharap dampak positif dari kegiatan ini dapat dirasakan secara kolektif, baik oleh peserta dalam membekali diri untuk dunia kerja maupun bagi internal panitia dan pemateri sebagai ruang berbagi pengalaman. Baginya, acara ini merupakan langkah awal untuk memicu semangat pengembangan diri yang lebih luas bagi para pemuda di lingkungan organisasi dan akademik.
Sementara itu, dalam sambutannya Muh. Rizal Khoiruddin selaku Ketua Umum KUBUS memperkenalkan Kabinet Rakasasmita sebagai simbol pelindung dan pemberi petunjuk yang menaungi Komunitas Beasiswa Unggulan Surabaya pada periode ini.
Ia menjelaskan bahwa pemilihan tema Public Relations untuk program kerja perdana ini didasari oleh keyakinan bahwa kemampuan komunikasi merupakan kunci utama untuk membuka berbagai peluang di era digital. Dengan membuka acara ini untuk masyarakat umum, Rizal ingin KUBUS melampaui batas eksklusivitas dan menjadi wadah yang inklusif bagi siapa saja yang ingin bertumbuh.
Lebih lanjut, Alfan Alfaridzi, S.T., M.T., menekankan bahwa keahlian dalam bidang Public Relations bukan sekadar kebutuhan akademis, melainkan aset yang sangat bernilai dan “menjual” di dunia kerja. Ia berharap ilmu yang diperoleh tidak hanya berhenti di forum virtual tersebut, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan profesional di masa mendatang.


