beasiswaunggulansurabaya.com., SIDOARJO—Berbagi pengetahuan sering kali menghadirkan pembelajaran yang jauh lebih bermakna daripada sekadar menyampaikan materi. Dalam forum pemberdayaan tempat wirausahawan UMKM berkumpul, pengetahuan bertemu pengalaman hidup, dan teknologi bertemu keterbatasan yang nyata. Itulah yang M. Hermy Hibatulloh rasakan ketika berkesempatan menjadi narasumber dalam pelatihan konten visual di Rumah BUMN Sidoarjo.
Sebagai Awardee Beasiswa Unggulan sekaligus pengurus Komunitas Beasiswa Unggulan Surabaya (KUBUS) Kabinet Suksmatara 2024-2025, momen ini menjadi pengingat bahwa ilmu yang diperoleh melalui privilese pendidikan idealnya kembali ke masyarakat—tidak sebagai pemaparan satu arah, tetapi sebagai proses belajar bersama yang saling bersinergi.
Dari Ruang Akademik ke Ruang Praktik

Bagi Hermy, ruang berbagi pengetahuan selalu menghadirkan pelajaran yang tak kalah berharga dibanding bangku perkuliahan.
Hal itulah yang dirinya rasakan ketika berkesempatan menjadi narasumber dalam pelatihan UMKM bertajuk “Power of Visual Content: Teknik Foto dan Video untuk UMKM Berdaya Saing” yang diselenggarakan Rumah BUMN Sidoarjo pada Rabu, 3 September 2025.
“Di hadapan sekitar 25 wirausahawan UMKM, saya tidak hanya berbagi praktik digital, tetapi juga belajar memahami ritme, tantangan, dan semangat para pejuang ekonomi lokal,” ceritanya.
Beasiswa Unggulan dan Tanggung Jawab Sosial
Sebagai Awardee Beasiswa Unggulan dan bagian dari Komunitas Beasiswa Unggulan Surabaya (KUBUS), Hermy percaya bahwa pengetahuan tidak seharusnya berhenti pada ruang akademik.
Ia mesti turun ke lapangan, menyentuh realitas, dan memberi daya. Kesempatan berbagi di Rumah BUMN Sidoarjo menjadi ruang aktualisasi nilai itu—bahwa kebermanfaatan adalah bentuk lain dari prestasi.
Membaca Pola: Konten Visual yang Efektif bagi UMKM
Dalam pelatihan ini, Hermy memaparkan hasil observasi terhadap delapan jenis video konten yang relatif efektif bagi UMKM, mulai dari product demo untuk menampilkan fungsi dan detail produk, before–after yang kuat untuk ulasan produk kosmetik, storytelling dengan narasi dan hook emosional, hingga konten trend lintas platform seperti Instagram dan TikTok.
Pola lain yang tak kalah relevan ialah challenge yang mendorong interaksi audiens serta testimoni review sebagai penguat kepercayaan konsumen.
Tiga Detik Penentu: Merancang Hook yang Menggugah
Namun, tren tanpa strategi hanya akan menjadi kebisingan; karena itu, Hermy menekankan pentingnya tiga detik pertama dalam sebuah konten visual—momen krusial antara ditonton atau diabaikan.
Hook dapat dibangun melalui masalah yang relevan, ekspresi mengejutkan, musik bertempo menegangkan, atau teks besar yang langsung menyentuh kebutuhan audiens.
Rumusnya sederhana: menonjolkan manfaat, bukan sekadar fitur, dikombinasikan dengan musik dan efek yang sedang tren, lalu ditutup dengan Call to Action (CTA) yang jelas.
Teknologi yang Membumi: Praktik Langsung di Lapangan

Pelatihan ini terasa hidup ketika praktik dilakukan secara langsung. Hermy mendemonstrasikan pemanfaatan AI TikTok, teknik dasar fotografi dengan grid kamera, penggunaan video stabilizer di Google Foto, hingga cara mengatur penjadwalan konten di Instagram dan TikTok.
Bagi UMKM dengan keterbatasan waktu dan sumber daya, fitur-fitur ini menjadi solusi sederhana untuk menjaga konsistensi publikasi.
Suara Peserta: Ketika Teknologi Menjadi Penolong
Refleksi peserta menjadi pengingat bahwa teknologi hanya berarti ketika benar-benar membantu. Margaretha, salah satu peserta, mengaku fitur penjadwalan otomatis sangat membantunya mengelola media sosial usaha. “Saya sering lupa dan tidak konsisten update. Setelah belajar bareng Mas Hermy, rasanya lebih teratur,” ujarnya.
Sementara itu, Inung baru mengetahui bahwa video tanpa tripod pun masih bisa diperbaiki melalui fitur stabilizer bawaan ponsel. “Sekarang nggak perlu khawatir kualitas video amatir tidak stabil, setelah mengetahui fitur ini,” tuturnya.
Belajar Menyesuaikan Bahasa, Belajar Bersabar
Di balik peran sebagai narasumber, pelatihan ini juga menjadi ruang belajar bagi Hermy yang mengaku antusias dalam pengalaman pertamanya mengisi pelatihan dengan partisipan ibu-ibu UMKM yang terpaut cukup jauh secara usia.
“Saya belajar menyesuaikan bahasa—lebih sopan, lebih perlahan—dan menyadari bahwa literasi digital bukan semata soal kecanggihan, melainkan juga mengenai kesabaran dalam mendampingi,”
Menjadi Awardee yang Hadir dan Berguna
“Pengalaman ini meneguhkan keyakinan saya sebagai bagian dari KUBUS: bahwa awardee Beasiswa Unggulan tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga hadir dan berguna. Ketika ilmu dibagikan, ia tidak berkurang—justru bertumbuh, menemukan maknanya, dan kembali pada masyarakat yang membutuhkannya.” pungkasnya, menutup refleksi.


